Rabu, 21 Mei 2014

MERINDUKAN HUJAN



MERINDUKAN HUJAN
Oleh: Dedi Saeful Anwar


LATIHAN  pamuka kali ini tidak dilakukan seperti biasanya -setiap hari Kamis- tetapi kali ini hari Selasa. Hal ini disebabkan dengan adanya pelaksanaan Try Out UN (Uji Coba Ujian Nasional) yang ke-dua di MTs Al Mizan. Yang akan dilaksanakan pada Kamis-Jumat, tanggal 10 dan 11 April 2014. Latihan minggu ini tidak mungkin juga dilaksanakan pada hari Rabu. Karena pada tanggal 9 April bertepatan pelaksanaan pesta rakyat yang dilaksanakan setiap 5 tahun sekali, yaitu Pemilu (Pileg) 2014.
Adanya penarikan jadwal ke hari Selasa pun bukan kehendakku sebagai pembina pramuka, tetapi inisiatif dan permintaan langsung dari para andika*). Pada intinya mereka tidak mau kehilangan sekali pun dalam hal berlatih pramuka. Mereka benar-benar antusias dalam menimba ilmu. Mereka giat mengisi SKU Penggalang Ramu dan Rakit juga pengisian SKK Purwa.
Ada yang lucu saat melaksanakan kegiatan latihan pramuka kali ini. Para andika sangat ingin segera turun hujan. Mereka berharap bisa mengulang kembali pengalaman yang indah seperti latihan pramuka seminggu lalu. Ketika latihan minggu lalu mereka puas dengan bermain air hujan yang turun sangat deras sejak pukul 4 hingga 5 sore.
Di awal-awal latihan kali ini cuaca begitu menyengat. Namun semua antusias akan mendapat ilmu baru setiap minggunya dengan berbagai kecerian-kecerian lainnya. Pramuka memang hakikatnya dalah kegiatan menyenangkan di luar kelas. Namun harapan mereka akan kedatangan air yang tumpah dari langit sore itu sepertinya akan tak terwujud, karena hujan itu tak ‘kan hadir bila tanpa izin dari pemilik-NYA.
“Kak ayo dong kak, hujannya mana?”pinta Sani seorang Penggalang Ramu dari regu Mawar.
Loh, memang Kakak yang punya hujan?” sambil terkekeh aku menjawab rengekan Sani.
“Iya, ya. Tapi gak seru ‘kan kalo gak hujan. Pingin kayak kemarin Kak.”
“Ya, kita berdoa saja. Semoga hujan segera turun,” timpalku memberi harapan.
“Horeee...,” Sani dan teman-temannya bersorak. Mereka kegirangan seolah hujan akan datang atas seijinku.
Aku menahan tawa melihat kepolosan tingkah anak didik itu. Mereka sangat merindukan hujan. Latihan kali ini memang dalam cuaca yang sangat terik. Tak kalah panas dengan latihan pramuka hari Kamis lalu.
Jadwal latihan kali ini adalah SKK Bersepeda, SKK Pengatur meja makan dan SKK P3K, selingan lagu daerah dan nasional di samping latihan rutin yaitu PBB, Senam Pramuka dan menyanyikan lagu-lagu pramuka.
Dalam SKK Bersepeda masing andika diuji dengan mengendarai sepeda dengan memegang stang oleh sebelah tangan. Tangan yang satunya lagi memegang benda (ember atau piring). Kemudian para andika menyebutkan bagian-bagian sepeda dan kegunannya serta menjelaskan cara merawat sepeda.
Sementara dalam SKK Pengatur meja makan, andika belajar menyajikan hidangan ala Eropa, kemudian mereka makan dengan menggunakan sendok dan garpu. Kemudian dalam mengisi SKK P3K mereka mampu menjawab beberapa tanaman herbal yang bisa dijadikan obat untuk mneyembuhkan berbagai kecelakaan. Seperti getah batang pohon pisang atau daun babadotan yang bisa digunakan untuk menyembuhkan luka gores atau tercakar dan tersayat benda tajam. Untuk luka memar mereka mengetahui dengan cara diberikan ramuan beras-kencur. Untuk luka bakar (air panas) mereka menyebutkan bisa dengan diolesi pasta gigi/odol atau garam, bahkan ada yang bisa dengan kecap.
Dalam berlatih PBB-AB, mereka seperti biasa berlatih dengan serius. Selain untuk memperlancar gerakan dan menguasai PBB-AB, mereka juga diharapkan akan semakin sigap dan mahir dalam berbaris seandainya diterapkan dalam Upacara Bendera setiap hari Senin yang selama ini terkesan asal-asalan dan tidak terampil.
Namun sampai waktu latihan usai ternyata hujan tidak kunjung hadir. Langit bahkan berseri menampakkan keindahan awan-awan putih. Mereka bertasbih di hamparan biru nan luas. Semua berarak indah memayungi bumi membentuk barisan rapi. Saya duduk di bawah pohon sukun yang tepat di depan kelas 9-A memerhatikan beberapa Andika berlatih naik sepeda dengan sebelah tangan yang memegang setang sementara langit semarak indah di atas menara masjid pangkalan kami, MTs. Al Mizan.
“Kak, ah gak seru kak. Hujannya gak turu-turun,” gerutu Sani yang sejak awal latihan begitu mengharapkan kehadiran air pembawa kegeran itu.
“Hush, tidak boleh begitu. Nanti kita kufur nikmat. Sekarang kita pulang saja semoga latihan minggu depan hujan akan kemabrli emnemani latihan pramuka kit, ya.” Aku berusaha selalu memebrikan suport kepada para Andika yang semakin hari semangatnya kian menggebu dalam berlatih.
Jarum jam hampir menunjuk pada angka 5 sore itu. Akhirnya kami pun meninggalkan pangkalan kami berlatih setelah sebelumnya ditutup dengan upacara penutupan latihan. Tak lupa aku selalu memberikan motivasi di setiap awal dan akhir sesi latihan. Walau ada perasaan kecewa karena hujan tak kunjung datang, tapi para andika puas karena hari itu mereka mendapat ilmu cukup banyak dan hampir semua mampu menyelesaikan ujian pada tiga buah tandatangan dalam Syarat-syarat Kecakapan Khusus (SKK) Purwa, Pramuka Penggalang.

Andika*) = anak didik pramuka

Selasa, 8 April 2014

MENIKMATI KEMBALI PENGALAMAN SENSASIONAL



MENIKMATI KEMBALI PENGALAMAN SENSASIONAL
Catatan Karang Pamitran Tingkat Nasional 2013
(Jilid-2)


Minggu, 9 September 2013. Waktu menunjukkan puku 01.00 dini hari. Setelah melakukan perjalanan yang cukup melelahkan akhirnya rombongan/kontingen KPN Kwarcab Cianjur tiba di Cibubur, Sabtu tengah malam. Walau jarak Cianjur-Jakarta yang tidak begitu jauh, namun perjalanan menuju Ibu Kota sungguh bukan perkara mudah. Selain di tiap ruas selalu penuh dengan kendaraan alias macet, kami juga harus berhadapan dengan hujan yang sangat deras sejak keberangkatan dari pelataran parkir Kwarcab jam 4 sore hingga daerah Jonggol, Bogor. Sehingga jalan menjadi gelap dan sedikit berkabut.
Sebelumnya, kami sempat pula transit di sekitar Cikalong Kulon untuk menemui seorang dokter (Tim Kesehatan Kwarcab Cianjur), karena salah satu kelengkapan dalam persyaratan wajib bagi tiap peserta ada yang belum dikantongi, yaitu Keterangan Kesehatan dari Dokter. Setelah salat Magrib, barulah rombongan melanjutkan perjalanan hingga tiba di pintu gerbang Buperta Cibubur sekitar jan 23.30!
Ketua tim dari Pusdiklatcab Cianjur -Kak Agus Solihin, S.Pd- segera melakukan pendaftaran ulang. Dan kontingen kami mendapatkan tempat di SIM Kapling Kwarcab Cakrabaswara (C3.3.B1). Dan, setelah memastikan lokasi perkemahan untuk mendirikan tenda putri barulah rombongan mencari lokasi perkemahan untuk putra. Dan kami baru menemukan kavling untuk mendirikan tenda sekitar jam 00.30 pagi. Sementara itu udara Jakarta yang terasa sangat panas dan gerah mulai digeser desau dingin.
Hembusan angin mulai menyergap kulit dan pori-pori. Setelah selesai mendirikan tenda kemudian kami (saya dan dua rekan pembina putra lainnya serta seorang Mabi Kwarcab) merebahkan tubuh yang terasa kaku dan pegal. Selembar kain terpal cukup menjadi alas tidur untuk sekadar membatasi rumput gajah dan tubuh kami. Aku menatap hamparan bintang di langit nan luas yang menjadi atap. Sambil mengingat-ingat, entah kapan terakhir kalinya saya tidur di luar seperti itu.
Tak henti ucapan tasbih saat menikmati kembali pengalaman paling sensasional itu. Tak jauh dari tenda, nampak berdiri kokoh pepohonan. Akasia, nangka, melinjo dan ketapang tegak mematung menyambut kedatangan kami. Deru kendaraan dan pesawat di kejauhan terbawa oleh angin menjadi melodi pengantar tidurku di hari pertama.
Cianjur, 16 September 2013
Bersambung...

Selasa, 31 Desember 2013

CATATAN DARI KPN-IV 2013

CATATAN DARI KPN-IV 2013
BUPERTA CIBUBUR JAKARTA, 9-14 SEPTEMBER 2013
Oleh: Dedi Saeful Anwar


Catatan ini awalnya akan diturunkan tidak lama setelah saya tulis. Namun karena berbagai kendala akhirnya baru kali ini saya turunkan dalam beberapa bagian. Semoga hal ini bisa menjadi salah satu wawasan baru bagi semua, kususnya bagi saya sendiri.

Pada 9-14 September 2013, saya mengikuti salah satu kegiatan yang diadakan oleh Gerakan Pramuka Nasional dalam agenda rutin empat tahunannya yaitu Karang Pamitran Nasional (KPN) IV. Penyelenggarannya kali ini dilaksanakan di Bumi Perkemahan dan Graha Wisata (Buperta) Cibubur, Jakarta.

Karang Pamitran merupakan ajang pertemuan para pembina pramuka di gugus depan (Gudep) untuk saling berbagi informasi, pengetahuan dan keterampilan dengan “silih asah (saling mengasah), silih asuh (saling memberi contoh tenteng penghayatan nilai dan silih asih (saling mengasihi)”.

Kegiatan ini merupakan yang hajatan yang baru menggeliat kembali setelah vakum selama 17 tahun, begitu pernyataan Ketua Kwartir Nasional dalam sambutannya pada Upacara Pembukaan yang di hadiri kurang lebih 2500 peserta dari seluruh Indonesia. Sungguh merupakan pengalaman yang sangat mengesankan. Betap tidak, kegiatan ini ibaratnya membawa saya pada sebuah miniatur Indonesia yang dikumpulkan dalam satu wadah kecil. Saya bertemu, bercengkrama dan berbagi rasa dengan para pembina dari seluruh negeri yang sangat kaya dengan kebudayaannya.

Selama ini semua itu hanya saya lihat dan saksikan lewat media elektronik. Atau hanya saya baca bari buku-buku maupun surat kabar. Namun, selama satu minggu itu saya berinteraksi dengan mereka. Saudara yang berbeda bahasa dan budayanya. Rasa syukur saya begitu deras terpanjatkan padaNya.

Semua berbeda tetapi tetap satu tujuan, satu hati satu warna baju dan satu tekad. Laiknya Bhinneka Tunggal Ika. Kami ingin menjadi pencetak para generasi yang lebih baik dan generasi unggul melalui wadah kegiatan yang di sebut Gerakan Pramuka.

MY DREAM COMES TRUE

Betapa tidak, karena hal ini ibaratnya sebuah mimpi yang menjadi kenyataan (dream comes true). Bila menerawang ke masa lalu, saya pernah dililit rasa kecewa yang tiada berujung, saat tidak bisa ikut kegiatan Jambore Nasional tahun 1986 yang juga dilaksanakan di tempat yang sama yaitu Buperta Cibubur. Mengapa saya kecewa? Saat itu saya terserang penyakit typus ketika duduk di bangku kelas 1 SMP. Dengan demikian saya tidak bisa mengikuti kegiatan pramuka dan tentu tidak tepilih menjadi perwakilan. Sejak itu terbersit sebuah ucapan dalam hati, “suatu saat saya akan ke sana”. Setiap perkataan adalah doa dan aya meyakini hal itu.

Waktu pun terus beranjak. Hingga pada akhirnya doa dan keinginan itu terwujud pada 2013 ini. Kurang lebih selama 29 tahun penantian itu terwujud di saat saya sudah menjadi seorang pembina. Walaupun berbeda forum karena Jambore adalah forum untuk peserta didik (Anggota Pramuka Penggalang) sedangkan Karang Pamitran adalah forum untuk Anggota Dewasa/Pembina.

Pihak Kwartir Cabang (Kwarcab) Cianjur pada awalnya tidak memilih saya untuk menjadi utusan ke KPN 2013 tersebut. Namun dua hari menjelang keberangkatan ke tujuan, dari enam orang utusan (3 orang pembina putra dan 3 orang pembina putri), salah satu dari utusan putra tersebut mengundurkan diri dengan alasan yang bisa diterima pihak Kwarcab.

Akhirnya pihak Pusdiklatcab Cianjur memutuskan mencari penggantinya secara mendadak. Dan beryukur, mereka akhirnya memilih saya dengan pertimbangan saya sudah memenuhi kriteria/persyaratan. Alhamdulillah walaupun dengan persiapan serba mendadak, setelah saya mendapat izin dari pihak sekolah- di mana saya mengajar- akhirnya saya bisa mengikuti kegiatan KPN hingga selesai di tempat yang pernah saya impikan beberapa puluh tahun silam.

Bersambung...

Selasa, 21 Mei 2013

KUNJUNGAN PETERNAKAN SAPI PERAH


UPTD Balai Perbibitan
dan Pengembangan Inseminasi Buatan, Ternak Sapi Perah Bunikasih Cianjur – Jl. Padalengsar RT. 01/09 Desa Bunikasih Kec.  Warung Kondang - Kabupaten Cianjur.

Kegiatan pada minggu, 17 Mei 2013 merupakan kunjungan pertama Gudep 01025/01026 ke Peternakan tersebut. Merupakan sebuah pengalaman yang mengesankan bagi peserta didik. Selain mendapatkan penjelasan berupa inseminasi buatan dari Bapak Budi, petugas lapangan di sana, kami semua mendapat kesempatan untuk secara langsung mencoba kegiatan seru yaitu memerah susu sapi.

Sejak Pagi jam 7, semua Andika berkumpul di Sekolah, kemudian berangkat ke lokasi pukul 08.00 WIB. selama diperjalanan semua pserta terilihat bersemangat dan tidak sabr ingin segera sampai ke Lokasi tujuan.

Kami berangkat menggunakan kendaraan umum (angkot) yang terbagi menjadi 3 kelompok. Sampai di lokasi sekitar pukul 08.45 kami disambut dan diterima oleh petugas dengan ramah. Kemudian kami berkumpul di aula untuk menerima penjelasan selama kami berada di lokasi.

Kegiatan berlangsung sangat seru dan mengasikkan apalagi saat peserta/Andika mencoba satu persatu memerah susu sapi. diantara mereka ada yang tertawa-tawa-geli, ada yang gak kuat menahan bau, ada juga yang menangis ketakutan.